BAGAIMANA WAKAF PRODUKTIF DIPRAKTEKKAN SAHABAT USMAN BIN AFFAN

Juni 4, 2020 Off By kedaiwakaf

Di kota Madinnah, ada hotel dan Masjid Utsman bin Affan, Hotel dan masjid itu memang benar-benar dibangun dari rekening tabungan milik Utsman bin Affan yang sudah berusia kurang lebih 1.400 tahun. Saat ini hotel tersebut kini dikelola oleh Sheraton dan salah satu hotel bertaraf internasional. Hotel tersebut berdiri gagah setinggi 15 lantai dengan 24 kamar disetiap lantai. Hotel tersebut dilengkapi dengan restoran besar dan tempat belanja. Dekat hotel tersebut terdapat Masjid Utsman bin Affan yang juga masih aktif digunakan.

Kisah hotel Utsman bin Affan berawal saat kaum Muslimin berhijrah ke Madinah. Saat itu, jumlah umat Islam bertambah banyak. Dampaknya, umat Islam mulai kesulitan air bersih. Sewaktu di Makkah, ketersediaan air begitu melimpah. Sementara di Madinah, umat Islam praktis hanya mengandalkan sumur. Satu satunya yang tersisa pada saat itu hanyalah sebuah sumur tua yang dimiliki seorang Yahudi dan sumur tersebut bernama Sumur Raumah. Luar biasanya sumber mata air tersebut rasanya mirip dengan sumur zam-zam. Nah pada saat itulah penduduk madinah & seluruh kaum muslimin harus rela mengantri hanya untuk mendapatkan air bersih dari seorang pemiliki Yahudi.
Rasulullah pun gundah mendengar kabar tersebut dan Rasulullah kemudian bersabda “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-nya Allah swt,” (HR. Muslim)
Setelah rasulullah mengatakan tersebut, sampailah informasi tersebut kepada sahabat sahabat Nabi, dan terketuk hatinya untuk menyumbangkan hartanya kebetulan Utsman bin Affan, akhirnya beliau bergegas menemui pemilik sumur raumah tersebut dan ingin sekali membebaskannya serta mengajak berdiskusi perihal harga yang akan beliau jual kepada Ustman. Niat mulia Sahabat Rasulullah saw ini memang sangatlah luar biasa, prinsip beliau ingin sekali mendapatkan surga-Nya dengan berharap imbalan berupa pahala tersebut oleh Allah swt.
Pemilik Sumur Raumah pun sudah diberikan penawaran harga yang sangat tinggi bahkan dengan harga tersebut si pemilik sumur raumah tersebut bisa menjadi kaya raya dalam sehari. Yahudi pemiliki sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai saudaraku Ustman, maka aku tidak bisa mendapatkan penghasilan yg bisa aku peroleh setiap haru,” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Dengan kecerdasannya Ustman bin Affan mencari solusi yang lain agar pemilik Yahudi ini bisa menjual sumurnya. Ia pun memiliki ide untuk membeli setengah sumur & memilikinya secara bergantian saja. Dengan kecerdasaannya tanpa pikir panjang pemilik Sumur Raumah ini langsung setuju dengan tawaran yang diberikan oleh Utsman bin Affan.
Akhirnya seraya beliau memberikan sebuah kabar gembira buat seluruh kaum muslimin Madinah bahwasannya Sumur Raumah telah dibeli oleh Ustman bin Affan. Bagi siapa saja yang sedang membutuhkan air bersih dapat mengambil melalui Sumur ini secara Gratis karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya.
Utsman bin Affan juga mengatakan kepada seluruh penduduk Madinah agar mengambil air dalam jumlah cukup untuk dua hari, karena keesokan harinya sumur raumah ini sudah tidak dimiliki oleh saya (Ustman).
Akhirnya hari berganti jatah Utsman untuk membagikan air sudah habis. Dan ternyata sumur raumah ini mendapati sumur miliknya sepi pembeli karena penduduk madinah masih memiliki persediaan air yg cukup dalam waktu dekat.
Keesokan harinya seorang Yahudi tersebut menghampiri kediaman Ustman bin Affan dan menanyakan penawaran yang pernah dilontarkan kepadanya yang diberikan harga sumur raumah dengan nilai yang tinggi yaitu 20.000 dirham atau setara dengan 77 juta rupiah.
Mendengar hal itu Ustman bin Affan langsung setuju dengan ucapan itu dan langsung membelinya seharga 20 ribu dirham, maka sumur Raumah pun menjadi miliki Ustman seutuhnya.
Kemudian Ustman bin Affan akhirya mewakafkan sumur tersebut untuk kelangsungan hidup penduduk madinah. Sejak saat itu Sumur Raumah ter bebas dan dapat dinikmati oleh seluruh warga madinah baik yang muslimin ataupun yahudi.
Wakaf sumur Ustman terus berkembang. Oleh pemerintah Ustmaniyah, wakaf Ustman dijaga dan dikembangkan. Perawatan wakaf Ustman ini dilanjutkan Kerajaan Saudi. Alhasil, dikebun tersebut tumbuh skeitar 1550 pohon kurma. Kerajaan Arab melalui kementerian Pertanian mengelola hasil kebun wakaf Utsman. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnta dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin lalu separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan.

Rekening atas nama Utsman bin Affan dipegang oleh Kementerian Wakaf. Dengan begitu ‘kekayaan’ Utsman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah  sampai pad aakhirnya digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi. Diatas tanah itulah hotel Utsman bin Affam dibangun dari uang rekeningnya, tepat disamping Majsid yang juga atas nama Utsman bin Affan.